Sejarah Singkat PAI

Sejarah Jurusan PAI lahir bersamaan dengan lahirnya IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 1963.  Jurusan PAI menjadi jurusan pertama  dan tertua di antara jurusan-jurusan lainnya.

Sepanjang sejarahnya, tokoh-tokoh yang pernah memimpin sebagai Ketua Jurusan PAI/FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah:

  1. Dr. H. Muardi Chatib
  2. Dr. H. Moh. Ardani
  3. H. Muallimi, M.A.
  4. H. Aziz Martunus, M.Sc.
  5. Drs. H. Muzayyin Arifin, M.Ed.
  6. H. Amir Abyan
  7. H. Ali Hasan
  8. H. Abdurrahman Ghazali, M.A.
  9. H. Abdul Fattah Wibisono, MA
  10. Bahrissalin, MA,
  11. Abdul Madjid Khon, MA

Kehadiran Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), adalah untuk menjalankan misi melahirkan pendidik-pendidik yang unggul dan mampu menyiapkan generasi muda Indonesia menghadapi tantangan zaman. Secara khusus, PAI mengemban tugas untuk menyiapkan pendidik bidang agama Islam yang mampu mewariskan ajaran Islam secara holistik. Hal ini sejalan dengan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan bangsa yang unggul dan berketuhanan. Selain itu, sejalan pula dengan Undang-undang no.20 tahun 2003 pasal 3 yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi anak Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Bahkan, dalam pasal 37 UU tersebut, menyatakan bahwa pendidikan agama merupakan salah satu unsur yang wajib diberikan di pendidikan dasar dan menengah.

Dalam konteks inilah, PAI hadir dan diharapkan mampu memberikan kotribusi yang signifikan dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia. PAI bertanggung jawab untuk mencetak pendidik-pendidik agama Islam untuk dapat mengajarkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai ajaran Islam kepada peserta didik pendidikan dasar dan menengah.

Sejak awal berdirinya jurusan Tarbiyah (kini jurusan Pendidikan Agama Islam) tidak didesain untuk mencetak ilmuwan akademik murni ataupun ahli riset bidang pendidikan dan keguruan semata melainkan untuk menyiapkan calon tenaga guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan Madrasah. Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah salah satu jurusan di Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam yang sepenuhnya dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam hal tenaga pendidik, khususnya tenaga pendidik yang mengajarkan PAI di sekolah dan madrasah. Hal tersebut seiring dengan makin kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh dunia pendidikan pada umumnya, khususnya tantangan PAI di sekolah. Tantangan tersebut antara lain, meliputi kuantitas tenaga guru PAI, kualitas dan kompetensi guru PAI yang belum memenuhi harapan stakholders, hingga perilaku siswa. Sejatinya tenaga pendidik PAI yang mengajar di sekolah diharapkan dapat membentuk karakter siswa kearah yang lebih positif sesuai dengan materi pengajaran PAI yang mereka terima

Kompetensi lulusan jurusan Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah dapat dikelompokkan dalam beberapa rumpun, yaitu: Pertama, penguasaan landasan pendidikan dan wawasan kebijakan pendidikan agama Islam di Indonesia sebagai titik tolak dalam mengembangkan kependidikan Islam. Kedua, penguasaan substansi kajian pendidikan agama Islam menyangkut penguasaan substansi ilmu-ilmu keislaman,  isi dan bahan ajar pendidikan agama Islam, dan penguasaan cara pengembangan bahan ajar pendidikan agama Islam. Ketiga, penguasaan pembelajaraan pendidikan agama Islam yang mendidik menyangkut kemampuan mengidentifikasi karakteristik peserta didik, penyusunan rancangan pembelajaran, penetapan strategi pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, perencanaan dan pelaksanaan evaluasi, perencanaan dan pelaksanaan penelitian, dan kemampuan mengelola laboratorium. Keempat, penguasaan keterampilan membimbing dan menggerakkan kegiatan keagamaan Islam pada jalur pendidikan formal dan non-formal.Kelima, penguasaan pengelolaan satuan pendidikan keagamaan Islam menyangkut kemampuan merencanakan program pendidikan keagamaan Islam, mengorganisir komponen satuan pendidikan keagamaan Islam, melaksanakan program pendidikan keagamaan Islam, melakukan supervisi, monitoring dan evaluasi program pendidikan keagamaan Islam, serta mengembangkan inovasi-inovasi program dan bentuk penyelenggaraan pendidikan keagamaan Islam. Keenam, pengembangan kepribadian dan keprofesionalan yang menyangkut kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja, baik bekerja secara mandiri maupun kemitraan, penguasaan sumber-sumber baru untuk pengembangan keahliannya, dan memiliki komitmen terhadap profesi dan tugas profesional.

Sejak Kurikulum (PAI) Sistem Kredit Semester (SKS) diterapkan di IAIN tahun 1980-an hingga sekarang ini kurikulum PAI telah mengalami beberapa kali perubahan yaitu kurikulum 1983, kurikulum 1988, kurikulum 1995, kurikulum 1997, kurikulum 2004 dan kurikulum 2005.

Kewenangan dan peran pemerintah pusat (Kemenag) dalam penyusunan kurikulum PAI PTAI, hingga kurikulum PAI tahun 1997 sangat dominan. PTAI diposisikan sebagai pelaksana kurikulum dibawah kontrol pemerintah pusat. Sementara penyusunan kurikulum tahun 2004 dan 2005 telah melibatkan PTAI dengan kewenangan lanjutannya adalah kewenangan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri sesuai dengan kondisi dan kebutuhan PTAI yang bersangkutan. Demikian pula halnya dengan Jurusan PAI, untuk melahirkan lulusan yang siap pakai, Jurusan PAI senantiasa melakukan pengembangan kurikulumnya,  mulai dari kurikulum  KBK sampai kurikulum KKNI dengan dosen-dosen pengampu matakuliah yang kompeten dan profesional bahkan telah memperluas jaringan pada perguruan tinggi baik nasional maupun Asean (Thailand) .

Mahasiswa PAI tidak hanya berasal dari dalam negeri namun juga berasal dari luar negeri, di antaranya Turki dan Thailand.  Dengan semakin meningkatnya  kompetensi lulusan PAI, mahasiswa yang sedang melakukan program PPKT  sering langsung diterima menjadi guru baik di sekolah maupun madrasah. Di samping bergerak dalam bidanag pendidikan,  lulusan PAI juga mampu bersaing di bidang kehidupan lainnya, bahkan ada yang sampai menjadi Menteri Agama RI, Rektor, Dai, pengusaha, motivator dan lain sebagainya.